OurVoice Forum


 
HomeHome  OurVoice WebsiteOurVoice Website  Peraturan & AdminPeraturan & Admin  Formulir Data KekerasanFormulir Data Kekerasan  RegisterRegister  Log in  
....Your sexuality is just one part of what makes you who you are....
..Exploring what and where you think your place is in this world can have massive effects on your self confidence..

Share | 
 

 Seminar Sehari Peran Tokoh Agama Dalam Penanggulangan HIV/AIDS

Go down 
AuthorMessage
toyo
Consultant


Jumlah posting : 270
Join date : 2009-07-19

PostSubject: Seminar Sehari Peran Tokoh Agama Dalam Penanggulangan HIV/AIDS   Sat Jan 23, 2010 12:31 pm

Term of Reference
Seminar Sehari Peran Tokoh Agama Dalam Penanggulangan HIV/AIDS
“AIDS dan Agama, Penularan HIV Melalui Transmisi Seksual: Realita, Stigma, dan Apa yang Bisa Dilakukan oleh Agama?”


Latar Belakang

Semestinya AIDS hanyalah sebuah penyakit. Sebagaimana penyakit-penyakit lain, semestinya AIDS hanyalah sebuah masalah medis yang menjadi garapan para dokter. Sebagaimana penyakit-penyakit lain, semestinya setiap orang merasa iba terhadap orang yang terinfeksi HIV dan berharap semoga segera mendapatkan obat dan kesembuhan. Sebagaimana orang-orang lain yang menyandang sakit, orang yang hidup dengan HIV semestinya tidak perlu malu mengakui sakitnya dan segera berusaha mendapatkan penanganan medis.

Tapi, realita yang kita hadapi saat ini menyatakan lain. AIDS lebih dari sebuah penyakit. HIV dan AIDS tidak lagi semata-mata isu medis yang dibicarakan oleh para dokter. Orang yang melihat atau mendengar tentang ODHIV tidak mesti melahirkan rasa iba dan untaian doa untuk kesembuhannya. Orang yang terinfeksi virus HIV tidak bisa dengan mudah menyebut dirinya HIV positif sebagaimana orang yang memiliki, misalnya, penyakit jantung atau ginjal atau bahkan hepatitis C, yang jalur penularannya sama dengan HIV.


Pertanyaannya adalah mengapa ini semua bisa terjadi? Mengapa tiba-tiba perasaan iba terhadap orang sakit hilang hanya karena orang tersebut terinfeksi virus yang disebut HIV; Mengapa tiba-tiba perasaan malu, terancam, bahkan tersingkir menyergap perasaan orang yang sakit hanya karena dia HIV positif?

Jawabannya ada pada stigma (cap atau penilaian negatif) yang dilekatkan pada AIDS dan virus penyebabnya. Stigma inilah yang membuat seseorang tidak lagi melihat AIDS sebagai sebuah penyakit secara netral sebagaimana penyakit-penyakit lain. Setiap perbincangan tentang HIV dan AIDS selalu sudah dengan sendirinya diluapi cap negatif.

Stigma ini selalu mendasarkan diri pada asumsi moral (atau pseudo-moral) tertentu. Agama yang didaku sebagai basis moral memainkan peran penting dalam operasi stigma ini. Misalnya, tidak sedikit kalangan agamawan yang kukuh dengan persepsi bahwa AIDS adalah kutukan Tuhan terhadap kaum homoseks yang perilaku seksualnya tidak sesuai dengan tuntunan agama.Memang, stigma terhadap AIDS hampir selalu berkelindan dengan stigma-stigma lain, terutama yang berlaku pada perilaku seksual homo, bi maupun hetero, promiskuitas (gonta-ganti pasangan), prostitusi, dan penggunaan narkotika suntik, dan orang-orang yang diketahui melakukan perbuatan-perbuatan itu (gay, waria dan pasangan lelakinya, lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki [LSL] lainnya, pekerja seks dan pasangan lelakinya dan pengguna narkotika suntik [penasun]).

Banyak kalangan yang meyakini bahwa stigma tersebut telah memperumit penanganan epidemi HIV dan AIDS. Hal ini misalnya bisa dilihat dalam masalah kondom. Sementara para ilmuwan menganjurkan penggunaan kondom sebagai alat untuk mereduksi penularan HIV, banyak tokoh agama terang-terangan menolak kondom. Gereja Katolik Roma, misalnya, secara tegas menolak kondom sebagai solusi krisis AIDS. Kondom dikonotasikan dengan perilaku promiskuitas. Kuatnya stigma negatif terhadap HIV dan AIDS menyebabkan banyak orang yang ragu untuk melakukan tes HIV, menutup kemungkinan ODHIV untuk mendapatkan pengobatan yang memadai, memposisikan ODHIV dalam antrian menuju kematian, dan yang lebih penting, sulitnya mengontrol penyebaran virus. Hasilnya adalah terus meningkatnya jumlah orang yang terinfeksi HIV.

Di samping itu, stigma negatif terhadap AIDS juga melahirkan berbagai tindakan yang melanggar HAM, misalnya, pengucilan, penolakan, diskriminasi dan penghindaran terhadap orang-orang yang terinfeksi HIV, pewajiban tes HIV tanpa adanya persetujuan dan perlindungan kerahasiaan, kekerasan terhadap ODHIV atau orang-orang yang dipersepsi terinfeksi HIV, dan karantina terhadap individu-individu yang terinfeksi HIV.

Khusus di Indonesia, jalur penularan HIV sedang bergeser dari jalur penggunaan jarum suntik bersama oleh pengguna narkotika suntik menjadi jalur penularan melalui transmisi seksual. Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa, karena jumlah orang berhubungan seks jauh lebih banyak daripada pengguna narkotika suntik, maka kita sedang berhadapan dengan potensi bencana yang lebih luas lagi apabila tidak dihadapi dengan cerdas dan tepat. Transmisi seksual ini terjadi melalui hubungan seks vaginal dan anal, yang dilakukan dalam relasi lelaki dengan perempuan (dalam konteks pernikahan, pelacuran, perpacaran dll.), lelaki dengan waria, lelaki dengan lelaki (dalam konteks relasi gay atau tanpa identitas), dengan kemungkinan kombinasi perpasangan-perpasangan itu.

Akan tetapi, tidak ada agama yang selalu bersuara tunggal. Tidak ada satu pun agama di dunia ini secara total bisa dimonopoli oleh kelompok tertentu baik yang berkontribusi positif maupun negatif terhadap penanggulangan HIV dan AIDS. Selalu ada suara di seberang yang mempermasalahkan klaim totalitas kelompok tertentu atas ajaran agama. Tidak semua tokoh Katolik menolak kondom sebagai instrumen penanggulangan HIV dan AIDS. Tidak semua tokoh Protestan memandang kondom selalu berarti mempromosikan promiskuitas. Sebagaimana halnya tidak semua ulama Islam membicarkan hubungan seksual semata-mata dari sudut pandang halal-haram. Masdar F. Mas’udi, seorang tokoh Nahdlatul Ulama, misalnya, pada satu kesempatan menyatakan bahwa fiqh Islam semestinya tidak hanya bertanya apakah sebuah hubungan seksual halal atau haram, tapi juga perlu dilanjutkan dengan pertanyaan apakah hubungan seksual itu aman ataukah tidak.

Dengan mempertimbangkan bahwa HIV dan AIDS tidak lagi semata-mata masalah medis, tapi sudah menjadi situs yang diperebutkan oleh berbagai kelompok mulai dari agamawan-moralis sampai human rights defenders, serta kenyataan bahwa agama masih menjadi acuan hidup utama bagi kebanyakan orang, maka melibatkan agama dalam skema besar penanggulangan HIV dan AIDS menjadi sesuatu yang niscaya. Keyakinan, ajaran, sikap, dan praktek-praktek keagamaan dapat memberi kontribusi, baik positif maupun negatif, terhadap upaya penanggulangan HIV dan AIDS. Tantangannya sekarang adalah bagaimana kekayaan nilai-nilai etis dan kasih sayang yang ada dalam rahim agama mampu digali untuk memberi kontribusi yang positif dalam rangka membebaskan dunia dari bayang-bayang ancaman HIV dan AIDS.

Tujuan
1. Membangun komunikasi antara tokoh-tokoh agama dengan kelompok pegiat penanggulangan HIV dan AIDS serta kelompok-kelompok kunci dalam hal penanggulangan epidemi HIV dan AIDS
2. Menciptakan ruang refleksi bersama tentang realitas HIV dan AIDS serta berbagai problem penanggulangannya, khususnya berkaitan dengan penularan melalui transmisi seksual
3. Merumuskan problem bersama dan mencari alternatif solusi bagi penanggulangan epidemi HIV dan AIDS
4. Merumuskan peran tokoh-tokoh agama dalam skema besar penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia

Materi dan Narasumber
Seminar ini akan terbagi menjadi dua sesi:
Sesi I: HIV dan AIDS: Antara Fakta dan Stigma
Sesi ini akan mendiskusikan tentang fakta medis tentang HIV dan AIDS, data-data statistik tentang jumlah ODHIV dengan berbagai klasifikasinya, cara-cara penularannya, dan berbagai upaya penanggulangan (kesuksesan dan kendalanya). Dalam sesi ini juga akan didiskusikan tentang perseteruan antara perspektif moral dan HAM dalam dinamika upaya penanggulangan HIV dan AIDS saat ini.
Narasumber: (1) KPAN dan (2) Dede Oetomo


Sesi II : HIV dan AIDS, Seksualitas, dan Agama
Sesi ini akan mendiskusikan tentang peran agama dalam menanggulangi epidemi HIV dan AIDS di satu sisi dengan batas-batas konvensional ajaran agama tentang seksualitas yang cenderung menolak orientasi dan perilaku seksual di luar heteroseksual. Sesi ini juga akan mendiskusikan tentang seksualitas sebagai objek studi akademik.
Narasumber: (1) K.H. Husein Muhammad ; (2) Prof. DR. Syafiq Mughni (3) Ester Mariani Ga ; dan (4) Ahmad Zainul Hamdi

Waktu dan Tempat
Hari/Tanggal : 27 Januari 2010
Waktu : 09.00-16.00 WIB
Tempat : Operation Room Departemen Agama
` Jl. Lapangan Banteng Barat 3-4 Jakarta Pusat

Jadwal

Waktu Kegiatan Narasumber Moderator
09.00-10.00 Pembukaan 1. Pembacaan Al Quran
2. Perwakilan UNAIDS
3. Menteri Agama
4. Doa
10.00-12.00 • Presentasi Makalah : HIV dan AIDS, Antara Fakta dan Stigma
• Diskusi 1. KPAN
2. Dede Oetomo
12.00-13.00 Makan siang - -
13.00-15.0
15.00-16.00
• Presentasi Makalah : HIV/AIDS, Seksualitas dan Agama
• Diskusi
Pembahasan dan Penutupan
1. 1.K.H. Husein Muhammad
2. Prof. DR. Syafiq Mughni
3. Ester Mariani Ga
4. Ahmad Zainul Hamdi
1. Steephen Suleeman
2. Bahrul Hayat, Ph.D


Peserta
Seminar ini melibatkan kehadiran berbagai kalangan antara lain: tokoh-tokoh agama, kelompok-kelompok penggiat penanggulangan HIV dan AIDS, kelompok-kelompok kunci, organisasi atau individu pembela HAM, para akademisi, dan unsur dari kementerian terkait.

Pelaksanaan
Seminar ini dilaksanakan oleh Kementerian Agama bekerjasama dengan perwakilan UNAIDS di Jakarta dalam rangka kampanye Penanggulangan AIDS dan dalam rangka Hari Amal Bhakti Kementerian Agama. Seminar ini dilaksanakan oleh sebuah panitia dari unsur Kementerian Agama dan UNAIDS dan dukungan finansial dari UNAIDS.

Jakarta, Desember 2009
Back to top Go down
 
Seminar Sehari Peran Tokoh Agama Dalam Penanggulangan HIV/AIDS
Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» CHRISTIAN PREACHER HAS FINAL SOLUTION TO AIDS PROBLEM

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
OurVoice Forum :: OurCommunity :: Agenda dan Event-
Jump to: